Pesisir Barat

Saya di Banda Aceh lagi akhirnya. Beberapa teman di Jogja tanya, kenapa saya ribet  pulang tiap semester? Ini pertanyaan yang enggak bisa saya jawab dalam satu kalimat. Saya tidak punya masalah berarti di Jogja, saya merasa cukup terbiasa jauh dari rumah. Di Banda Aceh sekalipun saya jarang benar- benar ada di rumah. Saya biasa menghabiskan waktu dengan teman akrab, di rumah mereka, di kedai kopi, jalan dan pantai seperti yang umum dilakukan anak- anak seumuran saya di Banda Aceh. Waktu dengan teman- teman saya inilah yang selalu saya anggap berharga, selain dengan keluarga. Saya senang dengan gagasan dan imajinasi kurang ajar mereka untuk masa depan yang tidak bisa dipastikan. Juga dengan semacam kesintingan yang dipelihara agar mimpi- mimpi bisa terus hidup biarpun diancam oleh kenyataan.

Saya tahu saya tidak selamanya akan bersama dengan mereka. Saya merasa cukup siap untuk tinggal dan menjalani pilihan saya sendirian. Dan saat saya pulang kali ini, saya seperti dihadapkan dengan pertanyaan, ‘Kamu yakin siap tinggal sendirian?’ Saya pulang dan banyak hal berubah. Hari pertama di Banda Aceh saya hanya ingin tidur seharian. Saya tahu ada banyak hal yang berubah, di kota maupun di dalam hubungan saya dengan orang- orang yang di tinggal di kota ini. Tapi saya malas untuk tahu lebih banyak. Saya cuma mau diam dan tidak ingin mendengar apa- apa lagi.

Minggu lalu saya berangkat ke Sampoiniet, Aceh Jaya dengan beberapa teman. Saya suka pesisir barat dengan pantai dan hutan yang berhadap- hadapan sepanjang jalur lintasan. Saya naik motor dengan Aris dan sepanjang perjalanan kami sempat bicara macam- macam hal. Aris tanya, nanti mau tinggal di Aceh atau di luar? Saya langsung jawab, ya tinggal di Aceh, tapi bukan di Banda Aceh. Calang atau daerah lain di pesisir barat mungkin oke.  Aris sendiri masih bingung mau tinggal di mana. Tapi sepanjang jalan, kami rebutan nunjuk tanah kosong yang berhadapan dengan pantai, sambil bilang, “Nanti rumah aku di situ! Nanti kita tetangga ya!”

Aris dan Nindy di Geurutee, Aceh Jaya

Semester ini nilai saya pas- pasan. Semester lalu saya dapat nilai C untuk matakuliah Azas- Azas Filsafat, dan saya ulang lagi di semester ini tapi malah dapat D. Nilai saya juga jelek untuk matakuliah kesukaan saya, Filsafat Barat Modern. Yah, saya rela- rela aja ngulang nanti. Semester nanti mungkin saya perlu mengurangi jumlah matakuliah, juga supaya bisa lebih fokus belajar dan punya waktu luang untuk melakukan kegiatan menyenangkan lainnya.

Tidak ada yang salah dengan Banda Aceh, tapi saya berencana untuk tidak pulang lagi setiap akhir semester. Setelah ini saya berencana untuk cukup pulang setahun sekali.


by

Tags:

Comments

4 responses to “Pesisir Barat”

  1. teman post mod Avatar
    teman post mod

    ini curhat yaa?? hmmmm 😛

    1. Raisa Kamila Avatar

      tepat sekali!

  2. r.mustafa Avatar

    banda aceh nyoe emang ka brat, raisa. brat ngon ureueng peutimang jih, lheuh brat lom ngon asoe-asoe di dalam jih. hahaha… ingat keu banda aceh, halah. brat teuh! saleum

    1. Raisa Kamila Avatar

      cit nyoe, han ek ta pikee kiban entreuk 10 thon ukeu. Sang bereh that menyoe ji gantoe keu Banda Aneh!

Leave a comment