Ulang Tahun Ayah 31/03/2016

Sejak kecil, Ayah rutin menanyakan cita-cita saya. Salah satu jawaban paling awal yang saya ingat adalah, menjadi pramugari. Saat itu, pilihan tayangan di televisi terbatas dalam tiga saluran: TPI, RCTI dan TVRI. Rumah kami berada di pinggiran kota dan di sekitar hanya ada kuburan umum dan tambak. Ayah agaknya tidak terlalu senang dengan cita-cita ini, tapi ia menangkap keinginan saya saat itu: melihat tempat-tempat asing dan menemui orang-orang baru.

Setelah agak lancar membaca, saya mulai berlangganan majalah Bobo. Ayah juga rutin membeli buku anak-anak setiap kali mampir ke Medan atau Jakarta. Sesekali, Ayah membeli DVD untuk menonton film bersama di rumah. Beberapa film yang Ayah rekomendasikan dan sangat berkesan bagi saya hingga kini adalah film Cast Away dan Trilogi Godfather. Bacaan dan film yang tersedia di rumah telah membuat pikiran saya menjelajahi berbagai tempat serta mengenali berbagai jenis manusia, tanpa perlu bergerak samasekali.

Menjelang sekolah menengah atas, saya bertemu dengan banyak teman-teman baru dan mulai berbagi bacaan serta film yang lebih beragam. Ayah mulai lebih sibuk dan tidak lagi menyediakan film serta bacaan untuk saya. Sejak itu pula, saya dan Ayah mulai semakin berjarak dalam urusan luar rumah.

Saat kuliah di Jogja, saya sesekali menemui Ayah di Jakarta dan menghabiskan waktu bersama dengan berbelanja buku. Dalam pertemuan seperti itu, saya lebih suka membeli buku fiksi ketimbang buku-buku teori atau sejarah, yang lebih mudah saya dapat melalui situs-situs bajakan atau menyalin dari koleksi teman. Selain itu, saya juga malas berdebat saat membeli buku-buku non-fiksi tertentu.

Biarpun saya dan Ayah jarang bersepakat untuk banyak sekali hal, tapi dalam urusan kuliner, ia adalah rujukan utama saya.

Dalam urusan ini, Ayah mengajari saya untuk menikmati dan mengolah makanan enak sekaligus sehat dengan harga terjangkau. Sebelum Ayam Tangkap mulai menjamur di paruh awal tahun 2000, kami biasa makan di warung pinggir jalan Stadion Harapan Bangsa dan menyebutnya dengan nama, “Ayam Kecil”. Di sekitar tahun yang sama, kami juga suka makan bakso ikan di warung makanan Cina, “Purnama” di Peunayong, yang baru-baru ini ditutup karena kabarnya, tengah terlilit hutang. Ayah selalu bilang, jika di satu warung makan ada banyak pelanggan orang-orang Cina, maka tempat itu dijamin enak.

Sejak beberapa tahun lalu, Ayah mulai makan beras merah, mengurangi garam, tidak memasak sayur sampai layu dan lebih banyak makan ikan. Untuk yang terakhir ini, Ayah bisa jadi memang pakarnya. Setiap akhir minggu, Ayah rutin ke pasar untuk membeli ikan segar. Mamak suka mengeluh karena kulkas penuh dengan berbagai jenis ikan, apapun kecuali lele (yang oleh Ayah disebut “ekor biawak”). Biasanya ikan yang bertumpuk itu dibagi ke kakak atau adik Ayah, dan sisanya diolah sendiri. Selain ikan panggang, menu andalan Ayah adalah sup ikan dan ikan kukus jahe dengan sambal colo-colo.

Dalam perjalanan ke Calang enam tahun lalu, saya ingat Ayah pernah bergumam, “Sebenarnya kalau boleh memilih, Ayah mau menjadi koki saja. Lega rasanya jika orang-orang bisa senang dan kenyang hanya dengan masakan kita.”

WhatsApp Image 2020-03-31 at 3.47.21 PM
ayah sehabis ngurus makanan untuk nikahan Ruzi

Foto ini diambil oleh kolega keluarga, Kak Iyak, di malam menjelang pernikahan Kak Ruz, saat Ayah sedang sibuk memastikan hidangan untuk para tamu. Ayah tampak capek malam itu, tapi besoknya semua orang memuji pilihan menu yang tersedia. Hingga seminggu setelah acara, Ayah selalu mengulang-ulang bahwa, hal terbaik tentang pesta pernikahan Kak Ruz adalah, orang-orang yang tidak berhenti menyicipi makanan jamuan.

Mungkin untuk hal cita-cita, saya dan Ayah berbagi mimpi yang sebenarnya cukup sederhana. Tapi tuntutan keluarga, pergaulan, persinggungan dengan hal-hal tak terduga dan keberuntungan membawa kami bergerak cukup jauh dari cita-cita semula. Bagaimana pun, saya tetap merasa perlu lebih sering bersyukur karena telah sampai di titik ini.

Selamat ulang tahun ke-60, Ayah.
Terima kasih sudah memberi gizi untuk pikiran dan tubuh selama ini. Semoga Ayah senantiasa sehat dan punya lebih banyak waktu untuk memasak, membaca dan menonton film di rumah.

Your One of A Kind Aneuk Dara,

Resa


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a comment