Adakah Aroma Roti dalam Dunia Yang Mati Rasa?

Esai ini ditulis untuk panel “Solidarity: On Political Text” pada Jakarta International Literary Festival 2025

Berselang beberapa bulan setelah bencana tsunami di tahun 2004, aroma roti hangat pernah menguar setiap sore di kota Banda Aceh. Roti-roti ini berbentuk bulat panjang dan dipanggang oleh para pekerja kemanusiaan asal Turki di oven darurat selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung. Setiap sore, di sekitar kawasan Lueng Bata, akan tampak pemandangan orang-orang yang mengantri berjam-jam di bawah matahari, menunggu dengan sabar sesuatu yang sebagian besar dari mereka belum pernah cicipi sebelumnya.

Dari sekian banyak hal tentang hari-hari setelah bencana tsunami, aroma roti itu salah satu ingatan yang paling melekat kuat. Saat itu saya berusia empat belas tahun, hanya memikirkan tekstur roti yang keras—bukan tangan-tangan yang setiap hari menguleni adonan bagi orang-orang yang tidak mereka kenal. Saya juga sibuk berceletuk tentang rasanya yang hambar, tanpa menyadari bahwa memberi makan dan membersamai yang luka mungkin adalah isyarat paling tua dari kemanusiaan. Lucunya, meski banyak orang-orang seumuran saya waktu itu punya pikiran yang sama, setiap sore tetap saja ada yang memutuskan keluar dari tenda pengungsian, dari rumah saudara, dari tempat tinggal sementara, untuk berdiri bersama-sama mengantri roti.

Seperti roti itu, setiap bentuk kepedulian juga membawa kita bergerak bersama—melampaui bahasa, asal-usul, dan jarak antar manusia. Terkait hal ini, ada sebuah cerita populer yang sering dikaitkan dengan antropolog Margaret Mead. Konon Mead pernah ditanya oleh mahasiswanya: apa tanda-tanda awal dari lahirnya peradaban? Lalu Mead menunjuk pada tulang paha dan melanjutkan jawabannya: tulang paha manusia yang patah dan telah sembuh adalah tanda bahwa seseorang telah merawat orang lain cukup lama hingga tulang itu pulih. Persoalan apakah Mead benar-benar pernah mengucapkannya tidak ada yang tahu pasti karena catatan tertulisnya tidak pernah ditemukan.

Namun, cerita itu terus beredar. Berpindah dari satu ruang kelas ke ruang lainnya, dari satu esai ke esai lain agaknya karena ia menyentuh sesuatu yang ingin sama-sama kita yakini: bahwa kepedulian, bukan penaklukan, adalah awal dari kemanusiaan. Seperti halnya roti yang tidak bisa dinikmati namun tetap dinanti, barangkali cerita Mead itu terus beredar bukan karena kebenarannya secara arkeologis, melainkan karena adanya keinginan untuk percaya bahwa sebelum senjata pertama, ada tangan-tangan yang membersamai; bahwa sebelum monumen dan prasasti pertama, ada tubuh yang menyembuhkan tubuh lainnya.

Gagasan tentang asal-usul peradaban manusia yang berawal dari kerja perawatan, bukan penaklukan, juga muncul dalam tulisan Ursula K. Le Guin yang berjudul The Carrier Bag Theory of Fiction. Dalam esainya itu, Le Guin membayangkan bahwa perkakas pertama ciptaan manusia bukanlah tombak, melainkan suatu wadah: bisa jadi kantong, anyaman atau bejana yang menampung hasil panen dan menjaganya agar tetap utuh. Jika cerita Mead mengingatkan kita pada tubuh yang sembuh, cerita Le Guin mengingatkan pada tangan yang membawa. Keduanya menandakan bahwa gerak awal manusia bukanlah pembangunan pilar-pilar atau perang, melainkan care work, kerja perawatan—tindakan yang terasa sepele tapi membuat hidup terus berjalan. Dari dua cerita itu, saya belajar memaknai ulang ingatan tentang aroma roti pada hari-hari rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami. Saat ini, saya mengenang aroma roti yang mengambang di udara, melewati reruntuhan rumah dan puing-puing yang tersisa dari bencana sebagai isyarat bahwa hidup tengah pelan-pelan pulih dan bermula kembali.

Mungkin, seperti halnya roti itu, kata-kata juga membawa kehangatan dan ketekunan yang sama, yang menyimpan cara manusia saling merawat. Di konteks nusantara, dalam bahasa Melayu lama, pernah ada satu kata yang terkait dengan cerita-cerita ini yaitu, nuraga. Berasal dari bahasa Sanskerta anurāga, kata ini berarti kasih, pengabdian, kehangatan yang mengikat satu makhluk dengan makhluk lainnya. Kini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata itu dicatat sebagai kata arkaik, yang berarti dianggap punah dari penggunaan lisan maupun tulisan penutur Bahasa Indonesia. Ketika berbicara tentang perasaan senasib sepenanggungan, kata nuraga terdengar asing. Kita lebih akrab dengan kosakata solidaritas—kata yang berakar dari Bahasa Latin solidus dan berarti kuat, utuh, terpaut bersama. Kata solidaritas datang kepada penutur Melayu Pasar pada suatu masa yang penting: masa perlawanan antikolonial, masa awal kehadiran serikat buruh dan aliansi antarbangsa. Ia lahir dari perjuangan dan sampai kini tetap menjadi bahasa perlawanan.

Namun nuraga menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki solidaritas. Jika solidaritas mengandaikan kebersamaan yang lahir dari struktur nan kokoh, nuraga terasa mengalir di dalam tubuh. Tapi, saya tidak sedang ingin mengajukan pertanyaan kata mana yang lebih baik, solidaritas atau nuraga, melainkan: mengapa kata nuraga menjadi arkaik? Dan apa artinya hal itu pada cara kita membayangkan rasa saling peduli, empati, dan membersamai orang lain hari ini?

Ketika nuraga menghilang dari penuturan kita, barangkali kita juga kehilangan bahasa kasih pada sesama— bentuk solidaritas yang bermula bukan dari ideologi, melainkan dari getaran tubuh. Memikirkan kembali nuraga bisa jadi adalah cara belajar kembali untuk menanggung, memikul, menggendong, membersamai, dan menemani. Akar katanya, raga, berarti tubuh dalam Bahasa Indonesia, yang secara kebetulan dalam Bahasa Aceh juga berarti pembawa—wadah yang menanggung atau mengemban. Di dalamnya tersimpan isyarat untuk merawat: tubuh sebagai bejana dan tubuh yang saling membawa.

Dalam Bahasa Inggris, frasa belas kasih dimaknai sebagai compassion, yang saya bayangkan sebagai tindakan yang bermula dari tubuh — dari getaran yang muncul ketika kita menyaksikan penderitaan orang lain. Kata compassion ini berasal dari Bahasa Latin, prefix com yang berarti bersama dan akar kata pati yang berarti menderita— menderita bersama. Ia rapuh, intim, hampir naluriah. Sementara solidaritas, yang terjemahannya nyaris sama dalam berbagai bahasa, muncul ketika perasaan menderita bersama berubah menjadi struktur dan menemukan bentuknya dalam ketahanan, dalam komitmen, dalam berdiri berdampingan.

Namun di antara keduanya, ada ruang yang tersembunyi oleh bahasa—ruang yang lebih sunyi dari dunia yang lebih tua. Jika compati ikut merasa, dan solidus ikut berdiri, maka nuraga menurut saya adalah, ikut menanggung. Ia muncul setelah gelombang empati pertama, ketika tubuh memilih untuk tetap tinggal, mengangkat, menjaga. Ia adalah belas kasih yang cukup lama bertahan hingga menjadi solidaritas, dan solidaritas penuh kasih yang cukup lembut untuk tetap bisa merasa dan membersamai.

Hari ini, kita menyaksikan berbagai luka, kekerasan, dan penderitaan secara langsung. Perang di Gaza, Rakhine, Papua, atau Sudan kita baca bukan lagi di buku sejarah, tidak lagi kita tonton melalui reportase saluran televisi seminggu sekali, melainkan realtime di layar ponsel kita. Kita menggulir, menonton, berduka dan seringkali merasa bingung karena rasa-rasanya tak banyak yang bisa kita lakukan. Seperti halnya ponsel di masa kini, di masa lalu mesin cetak, kamera, berita kawat dan radio adalah teknologi yang memperantarai orang-orang di berbagai belahan bumi. Cerita-cerita yang terekam secara lisan, tulisan, dan citraan bisa menggerakkan orang untuk saling terhubung dan membangun solidaritas. Dan ketika teknologi sudah semakin canggih, ketika kita sudah begitu terbiasa dibanjiri citra derita dan luka bertubi-tubi hingga mati rasa, apa artinya saling menanggung, merawat luka dan membersamai orang lain ketika mata kita sudah jenuh? Apakah belas kasih dapat bertahan di tengah keterpaparan yang tanpa jeda? Akankah solidaritas tampak berbeda jika tragedi tak terus beredar di hadapan kita?

Barangkali bercerita tentang kelembutan dan kepedulian juga adalah cara lain untuk melawan. Di tengah dunia yang terus memaparkan kekerasan, menolak mati rasa adalah bentuk perlawanan itu sendiri. Di sinilah nuraga dapat ditemukan hari ini dalam setiap upaya memperpanjang rasa peduli melalui tubuh: tangan yang membawa, punggung yang menanggung, kulit yang merasakan. Sering kali, tangan-tangan itu dimiliki oleh mereka yang bukan pahlawan dalam cerita-cerita revolusi, bencana, atau perjuangan kemerdekaan seperti perempuan yang menanak nasi di dapur umum, relawan yang membersihkan reruntuhan, anak-anak yang menemani satu sama lain. Dalam diri mereka, nuraga bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan sehari-hari yang menegaskan martabat manusia. Solidaritas, dengan demikan, tidak berhenti pada ide atau seruan, tetapi mengalir di antara napas dan gerak kecil keseharian. Ia lahir bersama kepekaan dan keberanian untuk mengasah rasa, meski dunia mengajarkan sebaliknya.

Jika solidaritas memberi kita bahasa untuk perjuangan politik, mungkin nuraga  memberi kita bahasa untuk kasih dan kesediaan untuk hadir meringankan derita dan kesakitan orang lain.  Keduanya tidak saling meniadakan; justru saling melengkapi. Yang satu membangun gerakan, sementara yang lain menjaga kemanusiaannya. Berbicara tentang nuraga bagi saya adalah mengingat tubuh sebagai bejana pertama bagi belas kasih yakni raga yang membawa, tangan yang memberi makan, rangkulan yang menerima. Mengingat bahwa, kemanusiaan bermula ketika seseorang cukup peduli untuk menanggung yang lain: tulang paha yang sembuh, roti yang dibagi, cerita-cerita yang kita terima dan rawat dalam ingatan.

Saya berterima kasih kepada Sanisa “Icem” Mulia yang memperkenalkan kata “nuraga” pada saya bulan Oktober lalu.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a comment