Mengungsi

Dalam perjalanan ke Malang, aku ketemu dengan Mbak yang aku lupa tanya namanya. Tadinya kupikir dia pramugari karena rambutnya disanggul macam standar pramugari Garuda Indonesia. Tapi ternyata dia pengusaha advertising dan pergi ke Malang dari Klaten untuk pangkas rambut di salon langganannya, biarpun ibunya di Malang juga pengusaha salon.

Ini kali pertama aku pergi ke Malang. Sebenarnya aku berencana ke Malang akhir tahun nanti, sebelum ujian akhir semester. Tapi karena erupsi Merapi bikin keluarga di Aceh panik, aku disuruh mengungsi ke Malang, ke rumah kakaknya Mamak.

Si Mbak itu terus- terusan bilang, “Gilak. Gilak. Gilak. Gilaaaak banget!” untuk semua hal yang kita omongin. Dia cerita kalau sehabis dari Malang untuk pangkas rambut, dia mau langsung ke Jogja, gabung jadi relawan di posko manapun untuk bisa membantu sebisanya. Si Mbak itu cerita tentang semua bencana yang ada di Indonesia, dan merutuki semuanya satu persatu. Dulu si Mbak juga pernah tinggal di Timor Timur karena ayahnya kerja di AURI. Sehabis referendum keluarganya berencana untuk tetap tinggal, tapi katanya rumah pendatang dibakar semua dan akhirnya mereka pindah ke Malang.

Waktu aku kelas tiga MIN ada seorang kawan pindahan dari Dili dan waktu itu aku mikir kenapa dari Timor Timur keluarganya justru pindah ke Aceh?

Si Mbak itu cerita kalau dia pengen pulang ke Timor Timur, tapi enggak punya cukup uang untuk ke sana. Di sana tenang sekali katanya, gunung dan lautnya masih asli. Aku baru aja mau cerita sama si Mbak itu kalau aku berencana ke Nusa Tenggara dan Timor Timur tahun depan, tapi batal karena aku turun duluan. Aku bahkan enggak sempat tanya namanya!

Sementara ini aku di Malang, mungkin sampai Idul Adha. Sehabis erupsi Merapi yang bikin kosan bau belerang sampe pagi, aku sempat ke Gelanggang Mahasiswa dan bingung ngeliat pengungsi yang terus- terusan datang.  Perasaannya kayak waktu tsunami dulu. Aku cuma ngeliat gelombangnya datang sekilas, dan balik ke rumah yang air rembesan tsunami berhenti sampe pagar. Tapi sehabis itu aku berdiri di jalan depan rumah, ngeliat orang- orang dari arah Prada menuju Ulee Kareng, membawa apapun: ayam, beras, jenazah.. Enggak berhenti sampai akhirnya aku berangkat ke Medan untuk mengungsi.

 


Posted

in

by

Tags:

Comments

3 responses to “Mengungsi”

  1. Muhajir Pemulung Avatar

    Malang melintang samudera terbentang!

  2. kantong plastik Avatar

    wehehe.. dimana2 mahasiswa ngungsi. padahal jogja lagi eksotis eksotisnya gini. ;p

    di sekitar kosan mulai susah cari makan kak sa, dimanamana rumah makan tutup, soalnya mahasiswa yg nyari makan juga gak sebanyak situasi normal. di bonbin malah pas hujan abu kali pertama jumat kemarin sempet diskon makanan gila2an. aku dapet pisang goreng 4 biji+perkedel cuma 2ribu perak ditambah es teh gratris pula. hegehege.. ;pp

    1. Raisa Kamila Avatar

      wah masa iya sih jogja harus berabu terus supaya kita bisa makan murah hihi

Leave a reply to Muhajir Pemulung Cancel reply