Sebelum bisa membaca dan menulis, aku paling suka menggambar. Dulu aku sempat langganan majalah Donald Bebek dan karena enggak paham ceritanya, aku cuma lihat gambar- gambar dan kutiru. Aku suka Daisy yang pacarnya Donald itu, dulu rasa- rasanya dia cantik dan elegan, beda dengan Minnie Mouse yang manja.
Dan karena aku suka menggambar, aku selalu berencana untuk bisa punya pekerjaan di bidang itu. Dari kartu- kartu gambar profesi hadiah susu Bendera, aku cuma lihat satu jenis kartu yang menarik dibanding yang lain, kartu dengan gambar arsitek. Sebenarnya aku sedih karena enggak ada pelukis, tapi karena arsitek juga berhubungan dengan gambar, aku pikir mungkin seru juga jadi arsitek.
Tapi rencana- rencana itu selalu berubah. Aku pernah mau jadi illustrator, komikus kayak Fujiko Fujio atau Herge, fashion designer, arsitek dan pelukis. Yang terakhir ini paling sering dikomentari guru, saudara dan kawan- kawan. Katanya aneh dan enggak bakal kaya. Hahahaha…
Aku selalu aja cemburu dengan siapapun yang sekolah seni, karena aku cuma bisa belajar gambar dari buku- buku aneh yang kutitip beli kalau Ayah lagi ke luar kota. Atau niru gambar di komik Jepang sampai ribuan kali sebelum akhirnya bisa mirip. Aku juga kesal dengan pelajaran kesenian yang dari MIN sampai SMA cuma menyanyi, menyanyi dan menyanyi. Sesekali memang ada jam untuk menggambar, tapi enggak pernah serius, enggak ada pelajaran tentang tehnik dan praktek yang menyenangkan. Dari dulu yang namanya pelajaran kesenian (dan olahraga) hitungannya ‘pelajaran main- main’.
Biarpun aku akhirnya lebih tertarik untuk fokus di bidang lain dan berhenti baca komik jenis manga, aku masih aja menggambar dan tergila- gila dengan lukisan. Sewaktu tamat SMA kemarin aku sempat terpikir untuk ikut tes masuk seni rupa di ITB, tapi akhirnya enggak jadi karena biaya tes-nya mahal dan kelihatannya bukan untuk main- main.
Kadang- kadang kalau aku lagi bingung dan anxious sendiri, aku menggambar sampai capek. Selama jadi exchange student dulu, aku punya sketchbook paperblank hadiah natal dari Brigitt. Aku melukis dan menggambar macam- macam di situ. Sekarang sketchbook itu hilang dengan barang- barangku yang lain sewaktu dikirim ke Indonesia.
Ada beberapa sketch juga yang kubuat waktu lagi sendiri di tengah kota, lagi rendam kaki di danau, waktu lagi ngopi di jembatan yang rusak dengan kawan- kawan SMA, waktu lagi sendiri di kamar, waktu lagi dengan dia di kamarnya… Yang terakhir ini jadi lukisan dan kuminta pajang dikamarnya, entah masih ada.
Aku suka satu bagian di film tentang pelukis Frida Kahlo, yang juga istri dari pelukis Diego Rivera. Sewaktu Rivera udah terkenal, Frida sering ikut- ikutan melukis juga dan ada orang yang tanya,
“Anda melukis juga, Ny. Rivera?”
” Tidak juga. Cuma untuk mengisi waktu luang,”
Hahahahaha…
Dari beberapa minggu lalu aku cari peralatan melukis di Jogja ini, dan aku belum dapat. Ada yang bilang di Gramedia, ada yang bilang di Toko Merah. Atau mungkin aku cari via online shop aja apa? Hmm. Tapi sekarang aku mungkin harus fokus untuk UAS yang mulai tanggal 3 Januari nanti. Yaampun! Aku anxited hahahaha maksudnya anxious dan excited! Oh-My!
PS: AKU MAU NONTON KONSER MAROON 5! Tapi dengar- dengar tiketnya udah sold out ya? 😦
Somebody… Help!
Leave a reply to Raisa Kamila Cancel reply