Menelusuri Kiat-Kiat Bertahan Hidup di Tengah Pengabaian Negara

tulisan ini adalah nukilan dari kata pengantar buku “Tersungkur dan Tetap Melawan: Sekumpulan Reportase Project Multatuli” terbitan Marjin Kiri, 2026. Pembelian buku bisa melalui tautan berikut: https://marjinkiri.id/product/tersungkur-dan-tetap-melawan/

Di tengah arus informasi yang semakin cepat melalui notifikasi tanpa henti, baik dalam bentuk rangkaian cuitan atau video singkat berlatar musik jedag-jedug yang datang dan pergi dalam hitungan detik, kita kerap merasa seolah-olah sudah mengetahui banyak hal. Setiap orang dapat merekam, mengunggah, dan menyuarakan apa yang mereka lihat dan alami. Aneka emosi seperti kemarahan, keresahan, dan kelelahan dari keseharian di berbagai penjuru tanah air kini dapat dibagikan secara langsung, tanpa perantara, dan seringkali tanpa proses verifikasi yang memadai.

Namun, keberlimpahan informasi ini juga membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Rentang perhatian kita menjadi semakin pendek, ingatan kolektif cenderung merapuh, dan peristiwa-peristiwa penting mudah tenggelam, digantikan oleh informasi berikutnya yang lebih baru, lebih sensasional, atau lebih mudah dikonsumsi. Dalam situasi seperti ini, apa yang rumit cenderung disederhanakan, dan apa yang membutuhkan waktu untuk dipahami seringkali dibiarkan terlewat.

Pada titik ini, kita mungkin berpikir: apakah membaca reportase masih relevan?

Pertanyaan ini penting karena membaca reportase bukan sekadar cara untuk memperoleh informasi, melainkan juga cara untuk membangun pemahaman. Reportase memungkinkan kita untuk mendekati secara lebih perlahan, berlapis, dan mendalam tentang kehidupan, tempat, dan peristiwa yang seringkali jauh dari jangkauan kita, baik secara geografis, politik, maupun emosional. Ia memberi ruang bagi detail, konteks, dan relasi yang tidak dapat ditangkap dalam format singkat. Dan terutama, di era ketika warga negara dapat berbicara langsung melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok, Twitter, dan Instagram, mengapa kita masih perlu membaca tulisan tentang mereka, bukan hanya menyimak dari yang mereka bagikan?

Salah satu jawabannya terletak pada struktur akses dan pengakuan. Tidak semua suara memiliki kesempatan yang sama untuk didengar dan tidak semua pengalaman diakui sebagai pengetahuan yang sah. Algoritma menentukan visibilitas dan kekuasaan menentukan legitimasi. Dalam konteks ini, reportase berfungsi bukan untuk menggantikan suara warga, tetapi untuk merangkainya dengan memberikan konteks, menelusuri keterkaitan, dan memastikan bahwa suatu peristiwa tidak hilang begitu saja dalam arus informasi yang semakin cepat. Lebih dari itu, reportase bekerja dengan tanggungjawab penuh. Ia menempatkan suara warga dalam jaringan yang lebih luas: kebijakan, institusi, sejarah, dan relasi kuasa. Dengan demikian, yang semula tampak sebagai pengalaman individual dapat dipahami sebagai bagian dari pola yang lebih sistemik.

Melalui buku Imagined Community, Benedict Anderson menunjukkan bagaimana praktik membaca melalui surat kabar, buku, dan bahasa secara bersama-sama berperan dalam membentuk rasa kebersalingan antara orang-orang yang tersebar di segala penjuru tanah air. Sebuah negara-bangsa secara bertahap lantas dibayangkan melalui teks dan pengalaman yang dibagikan. Namun, dalam situasi Indonesia hari ini, membaca tidak lagi cukup jika hanya berhenti sebagai konsumsi atau pengulangan informasi. Membaca perlu dipahami sebagai praktik yang lebih aktif: menghampiri, menyimak secara kritis, menghubungkan, dan ketika diperlukan, menggugat. 

Di sinilah pentingnya kerja jurnalistik yang bersifat lambat, terkurasi, dan berkelanjutan. Berbeda dengan lalu lintas informasi di media sosial yang serba cepat, reportase menawarkan kedalaman analisis, kesinambungan cerita, serta komitmen terhadap akurasi dan akuntabilitas. Ia memberi waktu bagi cerita untuk berkembang, bagi narasi untuk diuji, dan bagi pembaca untuk benar-benar memahami.

Buku yang mencakup 14 reportase dari laman Project Multatuli dalam rentang 2021-2026 ini hadir dalam kerangka tersebut. 

Dalam banyak kasus yang disinggung di buku ini, negara hadir bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai mesin yang bekerja melalui perangkat administratif, aparat keamanan, dan proyek pembangunan. Sementara pada saat yang sama, bentuk-bentuk pengabaian negara berlangsung secara beriringan. Kehadiran dan ketiadaan ini tidak saling meniadakan, tetapi justru berkelindan: negara dapat hadir dengan sangat kuat ketika mengeksekusi kebijakan, namun absen ketika perlindungan dan pemulihan dibutuhkan. Kehadiran ini kerap dibingkai melalui narasi kemajuan, efisiensi, dan manfaat ekonomi. Dan di balik narasi tersebut, ada kerusakan lanskap, retaknya hubungan sosial serta hilangnya sumber penghidupan yang tidak mudah dipulihkan. Namun, buku ini tidak hanya memperlihatkan mekanisme kerja kekuasaan. Ia juga memperlihatkan bagaimana warga bertahan dalam kondisi tersebut, bagaimana mereka menegosiasikan hidup di tengah tekanan, dan bagaimana bentuk-bentuk perlawanan muncul, baik secara terbuka maupun tersembunyi.

Dalam konteks ini, bertahan tidak selalu merupakan pilihan sadar, melainkan kondisi yang membentuk cara hidup. Dan dalam upaya bertahan, mayoritas warga hidup dalam keadaan yang dipenuhi dengan “luka struktural.” Jenis luka ini merujuk pada bentuk-bentuk kerusakan yang tidak selalu terlihat sebagai peristiwa tunggal, tetapi terakumulasi melalui kebijakan, institusi, dan relasi kuasa yang bekerja secara berulang. Luka ini tidak selalu hadir sebagai kejadian dramatis, melainkan sebagai tekanan yang terus-menerus dalam akses yang dibatasi, keputusan yang dipaksakan, dan kehidupan yang dipersempit. Ketidakadilan, keterlambatan, dan kekerasan menjadi sesuatu yang diinternalisasi dan dijalani sebagai bagian dari keseharian. Dengan kata lain, bertahan dapat dipahami sebagai proses menormalkan kondisi yang seharusnya tidak normal.

Dalam kerangka ini, konsep endurance yang dirumuskan oleh Elizabeth Povinelli dalam Economies of Abandonment membantu kita melihat bahwa bertahan bukan sekadar tentang daya tahan individual, apalagi kebajikan moral. Ia adalah kondisi berdurasi panjang, yang dijalani di tengah tekanan dan yang tidak selalu tampil sebagai peristiwa besar. Banyak hal yang melukai tidak pernah benar-benar menjadi “peristiwa”: ia menumpuk, tersebar, dan perlahan mengikis daya hidup. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan tidak selalu bekerja melalui keputusan dramatis, melainkan melalui pembiaran yang terorganisir, seperti membiarkan orang terus mencoba dan menyesuaikan diri hingga kelelahan menjadi batas yang tidak terucapkan.

Seringkali, proses ini berlangsung tanpa disadari hingga ia menjadi kebiasaan dan dianggap wajar, sehingga keausan dan kelelahan perlahan menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari cara hidup itu sendiri. Melihat bertahan hidup sebagai endurance juga menggeser cara kita memahami politik: dari fokus pada perlawanan yang heroik menuju perhatian pada keausan yang berlangsung terus-menerus; dari kekerasan yang spektakuler menuju tekanan yang biasa, tetapi tak henti-henti. Namun penting juga untuk berhati-hati: merayakan kemampuan bertahan tanpa menanyakan beban fisik, mental, sosial, dan politis justru berisiko memperpanjang kondisi yang menekan. 

Dan di sinilah peran reportase menjadi krusial. Reportase mengganggu normalisasi tersebut dengan menghadirkan kembali peristiwa sebagai sesuatu yang layak dipertanyakan. Ia menolak pelupaan, memperlambat waktu, dan memberi ruang bagi refleksi. Ia menempatkan pengalaman individu dalam kerangka yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari struktur sosial, politik, dan ekonomi.

Melalui rangkuman reportase, buku ini tidak hanya mengundang pembaca untuk memahami, tetapi juga untuk merespons, untuk mempertanyakan, dan untuk terlibat lebih jauh. Pembaca diajak untuk melihat keterkaitan antar peristiwa yang tampak terpisah. Dari wilayah pinggiran hingga pusat, dari kasus lokal hingga kebijakan nasional, muncul pola yang serupa: perampasan, pengabaian, serta bentuk kehadiran negara yang problematis dan tidak selalu berpihak pada warga.

Dalam kondisi yang penuh tekanan, praktik bertahan tidak terjadi secara individual. Ia selalu dibayangi oleh keausan dan kelelahan yang terakumulasi, sekaligus melibatkan relasi sosial melalui aksi saling mendukung, berbagi pengalaman, dan menjaga kesadaran kolektif, termasuk kemarahan terhadap ketidakadilan. Kemarahan di sini bukan sekadar reaksi emosional, tetapi bentuk kesadaran kritis bahwa kondisi yang dihadapi tidak dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Lebih dari dua dekade setelah Reformasi, pertanyaan tentang arah perubahan di Indonesia kembali mendesak. Di satu sisi, terdapat transformasi institusional namun di sisi lain, pola-pola lama bertahan dan kini dalam bentuk yang lebih terselubung serta seringkali tak mudah dikenali sebagai peristiwa tunggal. Justru dalam bentuk yang tersebar dan berulang inilah tekanan bekerja, dan praktik bertahan harus terus diperpanjang. Dalam situasi ini, membaca reportase tidak cukup sebagai laku intelektual semata, melainkan langkah awal untuk menautkan yang terpisah, mengenali pola yang berulang, dan memahami bagaimana pengabaian negara terus diproduksi.

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa bertahan saja tidak akan pernah cukup. Bahwa, dalam tekanan yang terus berlangsung, selalu ada kemungkinan dan cara untuk melawan. Setiap reportase juga mengajak kita menjaga jarak dari hal-hal yang terasa biasa, tetapi sebenarnya melukai dan merupakan bagian dari luka struktural yang terus diproduksi. Dan mungkin, setelah menelusuri semua ini, kita bisa sampai pada satu kesadaran: bahwa tidak ada kiat yang benar-benar cukup untuk bertahan, selain keberanian untuk melawan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a comment